Krisis Kepercayaan Bahasa Tulis

Posted: 25 November, 2015 in artikel

Penumbuhan Budi Pekerti begitu gencar di suarakan khususnya oleh dunia pendidikan Indonesia. Budi pekerti erat kaitannya dengan budaya. Menengok pembahasan budaya, maka sangatlah luas budaya di negara ini. Salah satu bagian kuat dan mempengaruhi banyak hal adalah budaya literasi. Ada yang menyebut budaya literasi adalah budaya membaca. Tapi secara sederhana literasi diterjemahkan sebagai kemampuan untuk memahami (MEMBACA) dan menggunakan bentuk bahasa tertulis (MENULIS) (Satria Dharma – Ketua IGI).
Sebagian warga Indonesia memang masih belum terbiasa dengan bahas tulisan. Di beberapa kejadian orang tidak begitu percaya dengan bahasa tertulis. Misal saat ke toko atau kantor di siang hari, di situ tertulis “istirahat” sekalipun masih ada beberapa orang yang duduk di kursi kerja, orang akan bertanya apakah tutup? Padahal sudah jelaa tertulis “istirahat. Di tempat tertentu pula saat sore atau malam hari sebuah kantor tertera “tutup” di jendela, ada satu orang sedang berbenah. Kemudian datanglah seorang pengunjung. Apa yang terjadi? Kemungkinan besar orang tersebut bertanya dengan pertanyaan sama dengan tulisan yang tertera di jendela itu.
Inilah contoh sederhana bahwa kepercayaan terhadap bahasa tulisan masih rendah. Bisa jadi penyebabnya adalah belum terbentuknya budaya literasi di masyarakat secara umum. Atau mungkin sebagian dari masyarakat sering mempermainkan bahasa tulisan sehingga menimbulkan ketidakpercayaan sebagian masyarakat lainnya terhadap bahasa tulisan. Sering dijumpai jalan ditutup secara penuh padahal jalan tersebut adalah jalan utama suatu daerah. Tentu hal ini membuat resah pengguna jalan yang berujung pada ketidakpercayaan dengan tulisan penutupan jalan dan berusaha mencari celah.

Masih berlanjut pada krisis kepercayaan terhadap bahasa tulisan. Pengaduan layanan masyarakat masih belum maksimal digunakan untuk menyampaikan keluhan sebuah service yang tidak sesuai dengan keinginan. Cerita sesungguhnya berawal ketika listrik di suatu daerah padam. Zaman seperti ini siapa yang tidak bergantung pada aliran listrik. Perlengkapan rumah tangga mayoritaas membutuhkan tenaga listrik. Jangankan satu jam, 30 menit saja tanpa ada listrik suasana mulai tidak nyaman. Baling-baling kipas tidak bisa berputar, gerah lah datang. AC tak berfungsi, ruangan menjadi panas. Kulkas pun mati tanpa listrik, harapan minum dingin sirna. Mesin penanak nasi tak bisa bekerja sebagaimana mestinya, lapar harus ditahan. Lampu tak menyala, ruangan gelap gulita. Pompa tak dapat mengalirkan air,  bersih diri pun tertunda. Mulailah keluh kesah terjadi. Apalagi listrik padam hingga ber jam-jam. Satu orang curhat kepada teman lain melalui chat group tentang listrik padam. Ada pula yang update status di sosial media. Tapi ingat sesungguhnya saat ini banyak kemudahan terkait dengan keluhan pelanggan. Baik melalui telepon, SMS dan sosial media. Khusus PLN, dengan mudah keluhan bisa di sampaikan melalui twitter.com/pln_123. Tanggapan cepat akan di berikan asalkan menyebutkan Nama, ID Pelanggan serta Alamat. Berikut ini contoh PLN keluhan melalui twitter

image

image

image

Selamat mencoba. Semoga listrik tidak lagi byar pet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s