Menelusuri daya tarik kampung halaman

Posted: 11 September, 2015 in artikel, Kabar-kabari
maket waduk bendo ponorogo

Maket Waduk Bendo. Sumber : kecamatan-sawoo.blogspot.co.id

Lebaran menjadi penantian panjang setiap muslim dan warga Indonesia khusunya, karena puluhan aspek budaya dan pengaruhnya mampu menggerakkan segala kehidupan mulai dari ekonomi, politik, sosial budaya dan lain sebagainya. Saat lebaran tiba beberapa politisi saling berucap salam sapa. Bidang ekonomi jelas secara kasat mata bila Ramadhan menjelang akhir. Semakin indah saat melihat budaya di berbagai daerah merayakan bulan Lebaran dengan mudik & silaturahim.

Lebaran tahun 2015 ada hal yang berbeda tentu istimewa, sekaligus tulisan ini di persembahkan buat duo spesial di hati. Kadang masih agak sulit untuk memulai dari mana tulisan ini di uraikan. Karena terlalu sederhana bagi yang sudah biasa keliling objek wisata, namun yakin sekali suatu ketika tempat ini akan menjadi salah satu rujukan dan satu dari sekian banyak kebanggan di kota Reyog.

Narsis bersama adhek di jalanan

Narsis bersama adhek di jalanan

Berawal dari cerita-cerita bahwa di kecamatan Sawoo Kabupaten Ponorogo ada proyek besar yaitu waduk. Menafsir jarak, tempat ini tidak terlalu jauh jauh rumah. Pagi itu diawali dari keinginan untuk refresh dan melihat-lihat di sekeliling kampung halaman. Sekitar 15 menit menuju dalan anyar (jalan baru) warga begitu menyebutnya. Sebenarnya Jalan ini sudah cukup lama ada, tapi tak sebagus dan semulus sekarang. Jalan di desa Kemuning yang menghubungkan jalur kecamatan Mlarak dan kota dengan Waduk Bendo. Setelah tiba di dalan anyar, mayoritas di kiri kanan berupa hamparan sawah yang luas hingga menghubungkan ke desa sebelah, tak ketinggalan menyempatkan diri nampang dulu di depan kamera. Di ujung nan jauh view gunung menghiasai cerahnya pagi hari. Sekitar jam enam  pagi sudah mulai banyak orang berlalu lalang, karena suasana yang segar dan jalan relatif sepi, sebagian orang memanfaatkan untuk berolahraga. Jogging atau sekedar jalan-jalan. Bahkan ada pula yang memanfaatkan untuk belajar mengendarai mobil. Selain hamparan sawah yang luas ada warung sederhana yang dibangun dengan bambu. Nampaknya warung ini dimanfaatkan pula untuk bercengkrama di malam hari. Biasanya warung ini ramai di saat musim panen. Petani melepas lelah sambil menyantap hidangan yang dijajakan.

Papan Informasi Proyek

Papan Informasi Proyek Rusak

Di ujung dalan anyar ini di temukan papan proyek sudah mulai rusak. Tulisan hasil dari digital printing sebagian sudah hilang tulisannya karena sobek. Posisi papan juga tidak tegak. Nampak jelas jika papan informasi ini tidak banyak yang mempedulikan. Padahal saya penasaran sekali berapa nilai proyek, dan alamat pasti dari waduk yang termasuk proyek multi years. Saat mencoba mencari informasi di internet proyek ini bernilai 600 miliar. Pengelola waduk ini berada di bawah kementrian pekerjaan umum, direktorat sumber daya alam termasuk di dalamnya adalah Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo.

Di kampung halaman, bila lebaran tiba biasanya ramai dengan hiasan lampu jalan, kembang api, bunyi-bunyian mercon dll. hal itu juga terlihat jelas di dalan anyar ini. Ceceran kertas bekas ledakan mercon berserakan di pinggir jalan. Kadang menjadi pemandangan yang membanggakan bagi warga, semakin banyak ceceran kertas, semakin meriah pula perayaan lebaran. Potongan kertas keci-kecil hasil gulungan pembungkus bubuk mesiu sebagai bahan peledak utama berada di sisi kanan kiri bahu jalan karena terhempas oleh kendaraan yang melintas.

Nampang dulu setelah dari wakop "Warto"

Nampang dulu setelah dari wakop “Warto”

Setelah menikmati udara segar di sekeliling sawah, petualangan mulai dilakukan. Perjalanan menuju waduk Bendo hanya sekitar 18 sampai 20 menit menggunakan sepeda motor. Melewati beberapa desa yang berbeda kecamatan, mulai dari Desa Kemuning, Wilangan (kecamatan Sambit) Bondrang dan Ngindeng (kecamatan sawoo). Kalau dilihat di google map jaraknya 8,1 KM dengan durasi 15 menit bila mengendarai mobil. Di desa Ngindeng sendiri sebenarnya banyak objek yang menarik baik secara histori maupun kemanfaatan sosial. Konon ada rumah singgah Jendral Sudirman yang sampai saat ini di lindungi. Keinginan saya objek ini adalah target penelusuran berikutnya. di desa ini juga Jembatan gantung untuk menghubungkan wilayah yang dibatasi oleh sungai. Selain itu ada Goa Landak. Tapi tulisan “Goa Landak” berdasarkan penelusuran saya di google map bukan hasil kunjungan langsung. Nah, nantinya ada objek yang menjadi ikon baru yaitu Waduk Bendo. Saat ini Waduk Bendo masih berupa sungai besar, bukit-bukit dan kampung penduduk akan di relokasi. Saat saya berkunjung di “calon” waduk yang megah ini, ada dua mobil dengan beberapa orang, kelihatannya sebuah keluarga. Meski belum selesai pembangunan, bahkan masih proses pemenuhan infrastruktur seperti jalan raya, proses relokasi dll ternyata sudah menjadi daya tarik juga. Apalagi jika suatu saat nanti pembangunan tuntas, entah kapan tahunnya tiga empat atau lima tahun mendatang, bisa lebih ramai dikunjungi. Menurut Tempo Online Waduk ini sudah diresmikan pembangunannya mulai 17 Desember 2013 lalu oleh Menteri PU saat itu Djoko Kirmanto.

Berpose Setelah dari Warung

Jalan Menuju Warung Kopi “Warto”

Salah satu view yang menarik dari area waduk ini adalah Gunung Bayangkaki. Saya menyempatkan diri untuk menghampiri satu-satunya warung kopi di tempat ini. Terdapat tulisan banner ukuran 1 x 80 cm tertulis “Warto, warung kopi toto. Pesona Gunung Bayang Kaki Bendungan Bendo”. Bagi yang hendak jalan-jalan ke tempat ini bisa mampir meski tempatnya sedikit masuk dari jalan utama. Letaknya agak meninggi dari jalan setapak yang dilewati. Tak mau ketinggalan, nuansa batu akik pun kelihatan saat penjual kopi menawarkan beberapa bongkahan batu. Batu yang sudah dirapikan ditawarkan tiga puluh ribu rupiah. Kata si penjual “sungai di sini memang banyak di datangi para pemburu batu, bahkan ada yang dari Ponorogo dan Madiun”. Jam setengah tujuh pagi lelaki kekar penjual kopi ini sudah buka. Sayang saya lupa tanya nama dan nomer HPnya. Yang pasti buka sampai sekitar jam empat sore. Setelah menikmati tempe tahu goreng dan segelas teh hangat saya beranjak pulang dengan angan-angan yang tinggi. Ingin meramaikan dan mempublikasikan uraian tentang waduk bendo yang rencananya diselesai tahun 2017 (Nasional.tempo.co).

Berikut ini gambar-gambar yang sempat di abadikan saat jalan-jalan

Sedang menikmati gorengan dan teh anget

Sedang menikmati gorengan dan teh anget

Bongkahan batu bahan akik

Bongkahan batu bahan akik berbagai pilihan

batu bahan akik sudah dirapikan

batu akik dari sungai Bendo sudah dirapikan harga rata-rata 30 ribu

gambar background sungai waduk bendo

gambar background sungai waduk bendo. gambar bukit di belakang akan di hubungkan dengan jembatan

Jalan baru menuju Waduk Bendo, terlihat lengang dan bercecer kertas berkas mercon

Jalan baru menuju Waduk Bendo, terlihat lengang dan bercecer kertas bekas mercon

Hamparan sawah dengan gunung di ujung jauh dalan anyar)

Hamparan sawah, gunung di ujung jauh 

Gambar maket waduk bendo, sumber : kecamatan-sawoo.blogspot.co.id,

Semoga dengan pembangunan waduk ini bisa memberikan dampak positif untuk lingkungan, masyarakat umum dan menjadi objek wisata baru.

link berita terkait waduk Bendo silakan baca di bawah ini:

http://nasional.tempo.co/read/news/2013/12/17/058538224/pemerintah-bangun-tiga-waduk-di-jawa-timur

surabaya.tribunnews.com/2014/03/04/proyek-waduk-bendo-rp600-miliar-bakal-terganjal-ganti-rugi-lahan-82-kk

kecamatan-sawoo.blogspot.co.id/2013/12/maket-bendungan-waduk-bendo-di-ponorogo.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s