Posted: 5 Juni, 2012 in artikel

Sebelum Berangkat Gowes

Malam yang cukup berkesan. Ini pengalaman pertama di dunia perkeboan. Sebelumnya telah diposting kumpul kebo itu indah, kini nampaknya berkelanjutan tentang kisah sepeda kebo. Bagi sebagian besar penggemar sepeda kebo event-event gowes bareng adalah hal yang sudah sering dilakukan. Beberapa orang menyebut kaum onthelis.

Sudah seminggu rencana menghadiri event di Blitar dipersiapkan. Saat pertemuan rutin di alun-alun Sidoarjo di hari Minggu pendataan peserta yang ingin ikut telah dilakukan. Sabtu 14 April teman-teman berkumpul di jalan raya daerah Magersari. Awalnya bersepakat berkumpul halaman Perum Graha Anggrek. Namun ada salah komunikasi. Delapan orang berkumpul di Graha Anggrek.Setelah kontak dengan beberapa orang, delapan orang bergabung di Magersari. Setelah Magrib semua orang sanggup untuk hadir. Mengingat persiapan untuk menata sepada cukup lama. Baru jam setengah sembilan malam truk yang digunakan untuk mengangkut sepeda plus penunggangnya datang. Cukup menarik kendaraan yang ditumpangi para onthelis malam itu. Truk dealer sepeda motor di sewa, disetting menjadi sedemian rupa menjadi hotel berjalan. Truk dua lantai multi fungsi. Bagian atas berjajar berbagai model sepeda kebo. Di bagian bawah menjadi tempat bernaung para penunggangnya. Suasana keakraban sangat melekat. Sesekali guyonan keluar dari satu mulut dan disahut dengan guyonan yang lain. Rasa dingin menjadi sedikit reda dengan bincang-bincang antar sesama.

Semangat teman-teman onthelis memang luar biasa. Meski banyak yang sudah usia lanjut kemauan untuk gowes seakan tak pernah lenyap. Rombongan dari Sidoarjo kota saya hampir menjadi orang termuda. Status termuda di pegang oleh dua orang siswa SMA. Mereka ikut karena kakak dan ayahnya ikut. Dari sejumlah orang yang ikut, kira-kira yang berumur kurang dari 30 tahun cuma lima orang. Fenomena sepeda antik memang tidak banyak di dominasi kaum muda tapi bukan berarti tidak ada sama sekali. Jumlahnya memang sedikit sekali.

Selama perjalanan dari Sidoarjo menuju kota Patria Blitar, tantangan sering mengikuti. Entah itu jadwal molor yang terlalu panjang atau truk pengangkut kurang fit. Dengar- dengar sopir yang saat ini menyetir bukan pegangannya sendiri. Belum dapat separo perjalanan truk mengisi BBM. Setelah mengisi BBM inilah mulai terasa kurang normal. Aliran bensin kurang lancar. Truk baru benar-benar mogok di daerah Gedangsewu – Pare – Kediri. Ngomong-ngomong masalah Gedangsewu, ada sentilan yang saya ingat waktu kursus bahasa Inggris di Pare. Sudah banyak yang tahu kalau Pare terkenal dengan kursus bahasa Inggrisnya. Puluhan tempat kursus berdiri di sana. Teman-teman dulu jika ada siswa rumahnya Gedangsewu sering bilang berasal dari Banana Thousand padahal seharusnya

thousand bananas. Gedangsewu dulu di kalangan masyarakat terkenal dengan prostitusinya. Hal itu yang di ingat kalau punya teman dari Gedangsewu. Truk mogok selamat tiga puluh menit. Setelah saluran bensin di bersihkan, truk kembali bisa berjalan normal.

Setengah tiga pagi rombongan baru sampai di Stadion Kota Blitar. Kebetulan salah satu rombongan punya saudara tepat di sebelah selatan stadion. Jadi lumayan ada tempat numpang tidur dan bersih diri. Nasibnya lumayan enak dibanding ribuan peserta karnaval sepede kuno lainnya. Event ini di selenggarakan dalam rangka memperingati HUT Kota Blitar. Jumlah peserta luar biasa banyak. Penggemar sepeda kuno dari kota berkumpul menjadi satu. Dari Banyuwangi, Ponorogo, Trenggalek, Malang, Kediri, Mojokerto, Tuban dan masih banyak lagi. Tercatat oleh panitia peserta terjauh berasal dari Palembang. Sidoarjo sendiri ada tiga kelompok yang di ketahui yaitu dari Republik Onthel Sidoarjo, Sawotratap dan Krian. Rute gowesnya tidak jauh. Mengelilingi wilayah perkotaan serta melewati beberapa potensi wisata seperti Makam Bung Karno. Mengayuh sepeda selama dua jam dengan kecepatan amat santai tak terasa melelahkan. Lebih – lebih melihat kreasi kostum yang unik. Bukan hanya unik tapi juga aneh. Berpakaian wajar nampaknya bukan suatu yang pas pada event-event sepeda kebo. Semakin berpakaian unik dan aneh kepuasan semakin tercapai.

Bisa dilihat pada gambar-gambar. Ini hanya sebagian kecil saja. Truk yang ada dibelakang pengendara sepeda kebo berbaju layaknya tentara tempo dulu dengan usia yang tak lagi muda, itulah kendaraan pengangkut sepeda dan pengendaranya dari Sidoarjo menuju kota Blitar. Semoga terkenang! Salam Gembel!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s