Pondok Gontor Punya WEB

Posted: 20 Juni, 2008 in artikel

Assalamu’alaikum ………

2 tahun yang lalu ketika saya berkeinginan mendapatkan informasi tentang salah satu ikon terkemuka di mata internasional bagi kota Ponorogo selain Reog yaitu Pondok Modern Darussalam Gontor atau yang lebih familier dengan Pondok Gontor, saya mencoba searching di google tapi tak nampak-nampak yang muncul adalah cuplikan-cuplikan berita atau artikel dari seseorang yang didalamnya ada kata Gontor,Darussalam dll. Berkali-kali saya coba dan coba ternyata masih juga belum bisa. Hal ini menguatkan persepsi saya bahwa Pondok Gontor Belum Menjamah dunia tekonologi dan barang-barang elektronika. Karena memang santri di Pondok Gontor tidak boleh membawa barang-barang elektronika seperti radio, HP, Kamera, apa lagi televisi.dll. bukan berarti tidak boleh memakai atau tidak boleh menonton TV tapi untuk menjaga konsentrasi belajar. Kalau di luar pondok mungkin bisa.. TAPI KALI INI JAUH BEDA .Ketika saya mengulangi hal yang sama di 2 tahun lalu yaitu searching di google cukup mengetik gontor wow .. alhamdulilah dunia dakwah kita semakin berkualitas. SITUS Pondok Modern Gontor pun terpampang http://gontor.ac.id dengan beberapa sub domain dan web pendukung lainnya seperti http://alumnigontor.com/http://www.majalahgontor.co.id

Sejujurnya saya sangat suka dan pengen terus ingin tahu dengan perkembangan Dunia Pendidikan apalagi Pendidikan di Pondok Gontor yang bertaraf internasional yang lebih dulu diakui mutunya oleh negara-negara timur tengah dari pada Pengakuan dari Indonesia sendiri. Sejauh yang saya ketahui Indonesia baru mengakui ijazah Pondok Gontor setara dengan pendidikan formal setelah era reformasi. Itu adalah hal yang miris sekali bagi saya .. bagaimana bisa dunia internaisonal telah mengakui sejak tahun 80an atau mungkin tahun 70 an (gak tahu pastinya) tapi di negeri sendiri malah baru beberapa dekade terakhir (takut kalah saingan kalee…. atau emang tutup mata sehingga sampsi sekarang pendidikan di indonesia masih di bawah standart ))

Sekilas tentang Pondok Gontor

Meski saya bukan seorang yang tergabung IKPM (Ikatan Keluarga PondokModern) atau pun seorang santri di gontor tapi sekilas membaca sejarahnya. Secara garis besar Pondok Gontor dulunya tak se elok yang kita lihat sekarang. Bahkan dalam sejarahnya di awalai dengan sebutan Gontor lama dan kemudian ada sebutan Gontor baru seperti yang kita ketahui saat ini.Kadang orang menyebutkan Gontor = Nggon Kotor (tempat kotor) tapi sekarang imej itu berubah menjadi Nggon Motor (tempat Motor) karena dari berbagai belahan dunia banyak yang berkunjung ke pondok ini

Sebelum pondok Gontor ada cikal bakal yang sebenarnya adalah Pondok tegalsari (tegalsari sendiri sebenarnya mirip dengan tokoh kyainya yaitu Kyai Ageng Hasan Bashari. Hingga sekarang ketenaran tegal sari masih belum bisa dilupakan oleh masyarakat Ponorogo khusunya.Itu terwujud ketika bulan ramadhan. Kalo sempat mampir ke Kota Ponorogo saat Ramadhan 10 hari terakhir kunjungi saja Masjid tegalsari … wuihh..rame banget dengan diadakannya sholat lailatul qodar berjamaah) salah satu desa di Kec. Jetis Kabupaten Ponorogo 10 Km ke selatan dari kota atau kurang lebih 3 Km ke arah barat dari Pondok Modern Gontor Darussalam yang sekarang.Singkat cerita Pondok tegalsari menjadi maju dan santrinya berasal dari luar jatim (kalau dulu belum ada jatim..dalam situsnya pondok gontor dulu orang menyebutkan pakai patokan tempat yaitu patokan gunung lawu.”santrinya dari timur gunung lawu hingga barat gunug lawu spt jateng jabar” dst.) bahkan luar jawa. Salah satu santri yang ada di Pondok tegal sari adalah keturunan dari kerajaan cirebon.

Alkisah, pada masa kepemimpinan Kyai Khalifah, terdapat seorang santri yang sangat menonjol dalam berbagai bidang. Namanya Sulaiman Jamaluddin, putera Panghulu Jamaluddin dan cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Ia sangat dekat dengan Kyainya dan Kyai pun sayang kepadanya. Maka setelah santri Sulaiman Jamaluddin dirasa telah memperoleh ilmu yang cukup, ia diambil menantu oleh Kyai dan jadilah ia Kyai muda yang sering dipercaya menggantikan Kyai untuk memimpin pesantren saat beliau berhalangan. Bahkan sang Kyai akhirnya memberikan kepercayaan kepada santri dan menantunya ini untuk mendirikan pesantren sendiri di desa Gontor

disinilah era gontor lama tumbuh berkembang. Hingga akhirnya Kyai Sulaiman Jamaluddin Wafat. Kemudian dilanjutkan oleh keturunannya hingga tampuk pimpinan berada di tangan Kyai Santoso Anom Besari. Kyai Santoso adalah generasi ketiga dari pendiri Gontor Lama. Dalam masa ini Gontor lama mulai surut karena kurangnya perhatian terhadap kaderisasi. Hingga suatu ketika kyai Santoso wafat dengan Pondok dalam keadaan kurang bergairah Bahkan Gontor kembali melemah di bidang akidah yaitu kembalinya orang-orang ke “MO LIMO” Ini ditambah lagi dengan mewabahnya tradisi gemblakan (prostitusi) di kalangan para warok.Tapi di sisi lain keberhasilan Pondok Modern Darussalam Gontor ini adalah sosok Nyai santoso. Melihat kurang stabilnya Pondok akhirnya Nyai Santoso menyekolahkan anak-anaknya agar bisa meneruskan perjuangan sang ayah.

Di sinilah babak baru muncul hingga tercipta adanya Pondok Modern Darussalam Gontor yaitu berada di tangan Ahmad Sahal (anak kelima), Zainuddin Fannani (anak keenam), dan Imam Zarkasyi (anak bungsu) yang biasa disebut dengan TRI MURTI. Dari ketiga tokoh inilah Gontor menciptakan Model pendidikan yang luar biasa mampu mengkatrol pendidikan. Sekarang telah menjadi kurikulum Pondok

  1. Tarbiyatul Athfal (T.A.); suatu program pendidikan anak-anak
  2. Tarbiyatul Athfal yang diberi nama “Sullamul Muta’allimin”. Pada tingkatan ini para santri diajari secara lebih dalam dan luas pelajaran fikih, hadis, tafsir, terjemah al-Qur’an, cara berpidato, cara membahas suatu persoalan, juga diberi sedikit bekal untuk menjadi guru berupa ilmu jiwa dan ilmu pendidikan. Di samping itu mereka juga diajari ketrampilan, kesenian, olahraga, gerakan kepanduan, dan lain-lain.

    Kegiatan ekstra kurikuler mendapat perhatian luar biasa dari pengasuh Pondok, sehingga setelah tiga tahun berdirinya Sullamul Muta’allimin Tarbiyatul Ikhwan (Organisasi Pemuda),Tarbiyatul Mar’ah (Organisasi Pemudi),Muballighin (Organisasi Juru Dakwah), Bintang Islam (Gerakan Kepanduan),Ri-Ba-Ta, yaitu Riyadlatul Badaniyah Tarbiyatul Athfal (Organisasi Olahraga),Miftahussa’adah dengan “Mardi Kasampurnaan”.Klub Seni Suara, dan Klub Teater. telah berdiri pula berbagai gerakan dan barisan pemuda, antara lain:

  3. Pembukaan Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI), 1936.
  4. Setelah seperempat abad KMI berdiri dibukalah Perguruan Tinggi di Gontor dengan nama Perguruan Tinggi Darussalam (PTD), tanggal 17 Nopember 1963. Nama PTD ini kemudian berganti menjadi Institut Pendidikan Darussalam (IPD) yang selanjutnya berganti menjadi Institut Studi Islam Darussalam (ISID)

Wuih … benar2 luar biasa ternyata Pondok Gontor telah membuat Kurikulum jauh sebelum kemerdekaan dan tidak pernah ganti dan hasilnya benar-benar jitu. Bandingkan saja dengan kurikulum pemerintah dari 10 tahun reformasi sudah berapa model pendidikan yang diterapkan tapi malah kacau… Pantas saja Gontor independent dalam kurikulum emang labih jitu dan pelajaran yang di terapkan makin ampuh dengan 100% ilmu agama dan 100% ilmu umum..benar-benar optimis dan luar biasa.. malahan sekarang telah membuka cabang hingga 10 cabang baik di Sumatra Kalimantan dan Sulawesi.

Semoga Sekilas cuplikan di atas memberikan motivasi dan mohon maaf bila salah dalam menybutkan nama ataupun salah dalam penafsiran. Cerita di atas sebagian saya kutip dan juga terdorong untuk menceritakan dengan bahasa saya setelah membaca di web resmi Pondok Modern Darussalam Gontor yang terletak di Kec.Mlarak Kab.ponorogo Prop.Jawa Timur Indonesia. Setelah beberapa waktu saya mancari. Pastinya saya juga kurang begitu tahu kapan Web Pondok gontor ini di luncurkan. tapi yang jelas kali ini saya lebih apresiasi terhadap dakwah Islam yang dilakukan Pondok Gontor. hal ini juga merupakan bentuk kebanggan kami terhadap ikon kota Ponorogo yang mendunia selain budaya yang indah yaitu Reog Ponorogo. Meski saya bukan orang yang pernah menyentuh kehidupan di Pondok Gontor bahkan sama sekali tak ada kaitanny. saya hanya masyarakat biasa yang bangga terhadap kampung sendiri dan juga sumber daya di dalamnya. Andai saja saya punya kekuatan baik secara fisik, mental , intelektual, material atau apapun bentuknya saya ingin lebih dekat dengan Gontor dan juga Ponorogo. Andai saja saya dari dulu tahu dan mampu, kepengen juga berkiprah di Gontor

terima kasih atas perhatian dan saya jamin para pembaca lelah membaca tulisan saya ( lihat situs gontor langsung bila ingin lebih lengkap di http://gontor.ac.id

Wassalam …

Komentar
  1. ikhwan mengatakan:

    assalamu’alaikum Wr.Wb

    Jayalah gontor untuk mendidik kader kader umat yang militan

  2. Nur Hidayat mengatakan:

    Mohon informasi tentang tenaga pngabdian..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s