KALENG SUSU ALAT PANTAU CURAH HUJAN

Posted: 20 Maret, 2008 in artikel

globe

Teknologi tepat guna yang sangat sederhana ini akan diperkenalkan kepada masyarakat luas untuk mengantisipasi jatuhnya korban akibat banjir dan tanah longsor. Hal ini dikemukakan Wisnu Widjaya, anggota tim asistensi teknis mitigasi bencana alam dan aplikasi rekayasa forensik KMNRT, BPPT sebagaimana yang di tulis Republika. Menurut Wisnu, prinsipnya sederhana saja. Curah hujan yang turun di suatu daerah biasanya di ukur dalam skala milimeter. Ini tentunya berhubungan dengan luasan tertentu di mana air hujantercurah. Semakin besar angka yang ditunjukkan, berarti semakin deras curah hujan tersebut.

Ia menjelaskan, batas maksimal di mana masyarakat sudah harus mewaspadainya adalah bila sudah mencapai angka 60 mm.Dan ukuran seperti ini, ternyata bisa di pantau dengan sebuah wadah seperti kaleng susu atau wadah terbuka jenis lainnya.Cara untuk mengukurnya mudah. Wadah tersebut nantinya di beri tanda berupa goresan di dindingnya. Wadah di tempatkan di daerah terbuka untuk menampung air hujan.Bila dalam waktu tertentu air yang tertampung sudah mencapai goresan, itu tandanya curah hujan sudah membahayakan. Maka tentunya, kentongan pun harus di pukul sebagai tanda warga sudah harus meninggalkan rumahnya.Masalahnya sekarang, setiap daerah tentu berbeda-beda karakteristiknya. Artinya kepadatan tanah tentunya berbeda-beda, kemiringan lahan juga berbeda-beda, belum lagi penutupan lahan oleh hijauan, bisa jadi berbeda-beda pula. Karakteristik seperti ini tentu saja menyebabkan goresan pada kaleng susu di setiap daerah akan berbeda-beda.

Dan sebenarnya, setiap kecamatan yang rawan bencana alam seharusnya mempunyai stasiun mini seperti ini.

Setasiun mini seperti ini berfungsi memantau cuaca secara umum, termasuk curah hujan. Kemudian dianalisis dengan data-data lingkungan. Seperti aliran sungai, kemiringan lahan, penutupan lahan, dan sebagainya. Sehingga nantinya karakteristik wilayah tersebut bisa diketahui.

Padahal kalau di lihat dari harganya, seperangkat alat ini harganya tidak lebih dari 15 juta. Tentunya masih jauh dibandingkan biaya kampanye pemilihan kepala desa di Karawang yang mencapai 80 juta.

Wisnu juga menjelaskan, pemantauan curah hujan ini perlu mengingat hujan merupakan pemicu datangnya bencana alam. Meski sebenarnya bukan semata-mata hujan yang menyebabkan bencana alam longsor atau banjir. Bila daya dukung alamnya bagus, bencana mungkin bisa dihindari.

Jadi, sekaleng susu tak hanya enak untuk di minum, tapi kalengnya pun bisa bermanfaat untuk menampung curah hujan <p <p <p <p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s