Jangan Menyusui Sambil Tidur, dapat “menganggu telinga”

Posted: Maret 29, 2012 in artikel

Saat kita pergi ke dokter, puskesmas atau rumah sakit kebanyakan orang akan bertanya, “sakit apakah gerangan hingga pergi ke ..(dokter, puskesmas atau rumah sakit ) ?. Padahal pergi ke tempat pengobatan belum tentu berobat dan belum tentu pula sakit. Karena sangat mungkin kita ke dokter hanya untuk sekedar konsultasi. Pola pikir demikian yang perlu kita tularkan. Ke dokter tidak perlu menunggu sakit. Banyak yang hafal “mencegah lebih baik dari pada mengobati” namun banyak pula yang kurang menyadari. Sering kita jumpai seseorang telah menderita penyakit akut lebih parahnya hal itu baru diketahui setelah sekian lama diderita. Ada yang mengatakan sakitnya tidak dirasa, ada pula karena persoalan finansial. Semesetinya kita peduli dan jeli dengan berbagai hal yang terjadi dengan raga ini. Bayangkan saja bila umur kita menginjak remaja hingga dewasa. Berapa puluh tahun raga ini kita manfaatkan. Lubang hidung yang begitu indah melingkar dua secara berdampingan telah kita gunakan untuk mengambil nikmat yang tersedia secara gratis oleh tuhan berupa oksigen. Mata tiap hari bekerja untuk menunjukkan arah kemana kita melangkah bahkan sering kita paksa untuk tetap terbuka disaat mata lelah ingin terpejam walau cuma sejenak. Telinga, meski tak pernah saling ketemu saling bekerjasama untuk menyeimbangkan pendengaran kita. Dan masih banyak lagi fakta-fakta lainnya.

 Telinga sebagai alat pendengar kita di desain oleh tuhan secara hebat. Arah lubang membujur secara horisontal seakan membatu agar alat vital di dalam yang berupa gendang tetap terjaga serta tidak mudah terkena objek dari luar telinga. Bayangkan bila telinga ini menghadap keatas, lubangnya seperti cerobong pabrik betapa rawan sekali telinga kita. Tak kalah menarik bentuk daun telingan yang melekuk-lekuk. Daun telinga yang melekuk-lekuk bertujuan agar keringat atau benda lain yang ada di kepala dan sekitarnya tidak begitu mudahnya meluncur ke dalam terowongan super dahsyat berupa telinga. Selain bentuk yang unik telinga memiliki penyaring udara. Hasil saringan itu berupa cream berwarna cokelat kehitam-hitaman. Orang jawa bilang curek . Sebagian orang tak nyaman dengan singgahnya cream ini di dalam saluran telinga. Padahal cream ini adalah proses sebab akibat. Munculnya cream karena kita mendapat perlindungan berupa penyaring. Hasil penyaringan itulah tercipta cream.

 Untuk kenyamanan sebagian besar orang rutin membersihkan curek . Membersih curek juga merupakan salah satu cara menjaga kesehatan raga. Meskipun itu hanya sebagian kecil saja. Masih banyak lagi hal yang harus dibersihkan seperti kuku, gigi, lubang hidung serta sela-sela tubuh yang lain. Sayangnya banyak yang tidak tahu bagaimana membersihkan telinga yang dihinggapi curek dengan baik. Sering orang mengorek-ngorek lubang telinga semaunya sendiri.

 Tuhan sayang kepada manusia itu adalah hal yang tidak terelakkan lagi. Contoh kecil saya sebutkan lagi dari sebuah curek. Sesungguhnya tanpa kita harus membersihkan secara detail, gerakan mulut yang buka tutup saat makan atau bicara itu sesungguhnya sudah membatu mendorong curek keluar dari lubang telinga tetapi tidak begitu optimal.

 Hari bersejarah saat itu terjadi. Yaitu saat saya memutuskan untuk ingin coba-coba menjadi pasien di RSUD Sidoarjo. Rumah sakit ini terkenal dengan gelar rumah sakit internasional. Berbagai pelayanan ditingkatkan dari tahun ke tahun begitu pula dengan bangunannya. Saya semakin penasaran ingin mencoba layanannya. Percobaan pertama saya bukan sebagai pasien yang sakit. Tetapi saya ingin bersih diri. Yah, lubang telinga yang puluhan tahun saya gunakan ini belum pernah dibersihkan secara total. Menjelang siang saya menuju ke rumah sakit. Sudah beberapa kali keluar masuk rumah sakit ini tapi tujuannya paling banyak adalah menjenguk. Masuk melalui pintu utama rumah sakit tertulis berbagai petunjuk. Dalam angan, THT adalah tempat yang tepat untuk di tuju. THT sendiri satu komplek tempatnya di poli umum. Setelah menemukan ruangan, sambutan resepsionis yang ramah meyapa dengan indah. Pertanyaan yang diajukan adalah “mau kemana ?”. Lalu saya utarakan maksud hati ini. Disambung dengan pertanyaan selanjutnya,”apakah bapak pernah berobat ke sini sebelumnya” saya bilang, “belum”. Kemudian saya diminta registrasi terlabih dahulu dengan membayar administrasi dua puluh ribu rupiah. Seingat saya untuk registrasi berada di loket lima. Beberapa petugas di loket itu telah siap siaga. Dengan proses cepat registrasi selesai di tandai dengan diberikannya kartu pasien sehingga ketika nanti akan datang kembali dilain waktu tidak perlu registrasi, cukup langsung ke poli yang di tuju.

 Beberapa saat kemudian saya menuju ke poli THT. Ruangannya di lantai dua, naik cukup menggunakan lift. Poli THT cukup ramai saat itu. Sekitar dua puluh orang sedang antri menunggu giliran. Tibalah saya yang dipangggil. Ruangan ber AC cukup dingin mengiringi penasaran saya akan layanan rumah sakit utama di kota delta. Awalnya saya diperiksa oleh dokter kemudian saya sampaikan, “saya tidak sakit apa-apa, hanya mau membersihkan teling”. Setelah di cek oleh dokter, dibantu dengan 1 dokter muda cewek dan satunya cowok saya diminta membayar adminstrasi untuk tindakan (pembersihan telingan). Tidak mahal banget sebenarnya untuk membersihkan telinga. Hanya sekitar 25 ribu rupiah. Sebenarnya cara membersihkan telinga cukup sederhana hanya saja memang harus dilakukan oleh orang terlatih dan alat yang benar-benar steril serta tidak melukai. Karena telinga salah satu bagian tubuh yang sensitif dengan benda tumpul. Salah sedikit saja bisa fatal.

Alat yang digunakan setahu saya sebuah semprot air dari alat suntik tapi ujungnya bukan jarum melainkan selang kecil yang lentur. Air hangat di sedot dari wadahnya yang sudah dipanaskan secara elektrik dengan suhu tertentu kemudian disemprotkan kedalam lubang teling. Awalnya terasa geli dan kuatir jangan-jangan airnya masuk hingga ke rongga yang paling dalam. Ternyata tidak, setelah disemprotkan, air keluar lagi dengan membawa kotoran yang ada di dalam. Saat itu telinga kanan saya dibersihkan terlebih dahulu. Tigal kali disemprot air hangat keluarlah seperti biji kacang tanah namun panjangnya dua kali panjang kacang tanah. Pembersihan telingan kanan diakhiri dengan membasuh dinding lubah telinga dengan kapas. Plong rasanya. Hal sama dilakukan untuk telinga kiri.

 Selain proses membersihkan telinga, hal yang berkesan bagi saya adalah tatkala duduk diruang tunggu. Di situ banyak tulisan-tulisan, poster-poster tentang penyakit telinga. Tulisan itu membuat saya terus memendam rasa dan sampai saat ini belum menempukan penjelasannya. Apa kira-kira tulisan itu ? Sebenarnya ingin sekali menanyakan langsung kepada dokter tetapi waktu yang singkat hanya bisa digunakan untuk ngobrol yang ringan-ringan saja. Tulisan sederhana itu adalah apa yang seharusnya kita lakukan pada telinga. Contoh tidak boleh mengorek telinga dengan benda keras, harus terlindungi jangan sampai air masuk dan satu lagi “jangan menyusui sambil tidur”. Kira-kira apa hubungannya atau saya salah baca saat itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s